Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Sikap Wara’ Pada Masa Belajar

Bina-Qurani-Sikap-Wara-Pada-Masa-Belajar
Sikap Wara’ Pada Masa Belajar

Dalam masalah wara’, sebagian ulama meriwayatkan hadis dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda:

“Siapa yang tidak bersikap wara’ pada waktu belajarnya, maka Allah akan memberinya ujian dengan salah satu dari tiga perkara: dimatikan pada usia muda, atau ditempatkan di perkampungan orang-orang bodoh, atau mengujinya dengan menjadi pembantu bagi penguasa.”

Apabila seorang pelajar mau bersikap wara’ maka ilmunya lebih bermanfaat, dan belajarpun akan menjadi mudah serta mendapatkan banyak faedah.

Termasuk berbuat wara’ adalah menjaga dirinya jangan sampai perutnya kenyang, terlalu banyak tidur dan banyak membicarakan hal yang tidak bermanfaat. Selain itu, hendaknya berhati-hati dari memakan makanan dari pasar, jika memungkinkan. Sebab, makanan ini lebih mudah terkena najis dan kotor, jauh dari zikrullah, bahkan membuat lengah dari mengingat Allah. Pasalnya, orang-orang fakir selelu melihat makanan itu, tapi tidak mempu membelinya sehingga mereka tersakiti hatinya. Oleh sebab itu, berkah pun akan hilang darinya.

Dikisahkan:

Syekh Al-Iman yang mulia Muhammad bin Al-Fadl Raḥimahullāh pada waktu masa belajarnya tidak pernah memakan makanan dari pasar. Ayahnya sendiri yang tinggal di dusun yang selalu mengiriminya makanan setiap hari Jumat. Pada suatu hari, Sang ayah mengetahui ada roti pasar di kamar Muhammad. Ia pun marah dan tidak mau berbicara dengan sang putra. Akhirnya Muhammad menjelaskan, “Saya tidak membeli roti itu dan memang tidak mau memakannya, tetapi itu pemberian temanku.” Bapaknya menjawab, “Bila kau berhati-hati dan wara niscaya temanmu tidak akan berani memberikan roti seperti itu.”

Demikianlah para penuntut ilmu dahulu berbuat wara. Dengan itu, mereka diberi ilmu dan mengajarkannya, hingga nama mereka tetap harum sampai hari kiamat.

Ada seorang zuhud dari kalangan ahli fikih menasihati seorang pelajar. “Jagalah dirimu dari ghibah dan bergaul dengan orang-orang yang banyak bicaranya.” Lalu ia meneruskan nasihatnya, “Orang yang banyak bicara itu mencuri umurmu dan menyia-nyiakan waktumu.”

Termasuk sikap wara’ lainnya lagi adalah hendaknya menjauhi kaum perusak, orang-orang yang berbuat kemaksiatan dan para penganggur. Sebab, bergaul dengan mereka itu pasti akan sangat terpengaruh. (Hendaknya) seorang penuntut ilmu menghadap kiblat waktu belajar, mengikuti sunah Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam memohon didoakan oleh orang-orang baik dan waspada terhadap doa orang-orang teraniaya.

Diceritakan:

Ada dua orang pergi merantau untuk menuntut ilmu. Mereka berdua bersahabat. Setelah berjalan bertahun-tahun, mereka kembali pulang. Ternyata satunya menjadi fakih, sedang satunya lagi tidak. Kemudian para ulama ahli fakih daerah tersebut merenungkan, lalu mereka bertanya kepada dua orang tadi tentang bagaimana keadaannya, mengulang pelajarannya dan duduknya pada waktu belajar. Setelah itu, mereka menceritakan bahwa yang orang alim tadi setiap mengulang pelajarannya selalu duduk menghadap kiblat dan kita di mana ia mendapat ilmu. Sementara yang satunya, yang tidak alim tadi, ia duduk membelakangi kiblat dan wajahnya tidak menghadap ke sana.

Dengan demikian ahli fikih dan para ulama sepakat bahwa orang yang menjadi alim tadi adalah karena berkahnya menghadap kiblat. Itulah yang disunnahkan dalam duduk, kecuali terpaksa. Dan berkah orang-orang muslim di sana, sebab kota tersebut tidak pernah sepi dari orang-orang ibadah dan berbuat kebajikan. Yang jelas, setiap malam pasti ada satu orang ahli ibadah yang mendoakannya.

Thalibul ilmi hendaknya tidak mengabaikan adab dan amalan-amalan sunah. Sebab siapa yang mengabaikan adab maka akan tertutup dari sunah, yang mengabaikan sunah, akan terhalang dari fardhu, dan berarti siapa yang terhalang dari yang fardhu akan terhalang dari kebahagiaan akhirat.

Sebagian ulama berkata “Ini adalah hadis dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam.”

Seorang penuntut ilmu hendaknya memperbanyak shalat, dan menjalankannya dengan khusyuk. Sebab, hal itu akan lebih memudahkannya dalam meraih kesuksesan belajar. Syair dari Syekh Al-Imam Az-Zahid Al-Haj Najmuddin, Umar bin Muhammad An-Nasafi Raḥimahullāh dibawakan untukku:

Jadilah engkau, pelaku perintah dan penjaga larangan
Shalat selalu dijaga dan dilaksanakan
Pelajarilah ilmu Syar’i dengan kesungguhan
Meminta tolong dengan yang baik-baik agar kau menjadi ahli fikih nan hafizh
Mohonlah kepada Ilah-mu agar menjaga kuat hafalan
Mengharap karunia-Nya, Ia-lah sebaik-baik pelindung

Kemudian beliau Raḥimahullāh berkata lagi:

Taatlah engkau, bersungguh-sungguh, jangan malas
Kalian semua akan kembali ke hadirat Tuhan kalian
Jangan banyak tidur, karena sebaik-baik hamba Ilahi
Adalah mereka yang pendek tidurnya di malam hari

Thalibul ilmi hendaknya selalu membawa buku setiap saat untuk dipelajari. Dikatakan: “Siapa yang tak ada buku di sakunya maka tak ada hikmah di hatinya.”

Lalu, buku itu hendaknya berwarna putih. Juga hendaknya membawa botol tinta (pena) agar bisa mencatat segala pengetahuan yang di dengar. Sebagaimana di atas telah kami kemukakan hadis riwayat Hilal bin Yasar Raḥimahullāh.

Dikutip dari: Imam Az-Zarnuji, Ta’lim Al-Muta’allim fi Thariq At-Ta’allum. Edisi terjemah: Alih Bahasa Abdurrahman Azzam, Ta’limul Muta’alim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, (Solo: Aqwam, 2019), 143-148.

Thumbnail Source: Photo From Legacy Collections

Artikel Terkait:
Memetik Pelajaran dan Adab Mengambil Faedah Ilmu

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #adab-adab penuntut ilmu #Definisi Ilmu #ilmu bekal terbaik #ilmu fikih
Login