Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Tauhid Uluhiyah

Bina-Qurani-Tauhid-Uluhiyyah
Makna Tauhid Uluhiyah

Uluhiyah adalah ibadah. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nazar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakal, senang, dan tobat.

Jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai dari rasul yang pertama hingga rasul yang terakhir.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan, ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’ …” (QS. An-Nahl [16]: 36)

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul oun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasannya tidak ada Ilah yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 25)

Bina-Qurani-Tauhid-Uluhiyyah

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Tauhid Uluhiyah, Source: Photo by Tayeb Mezahdia From Pixabay

Tauhid Uluhiyah Inti Dakwah Para Rasul

Setiap rasul selalu melalui dakwahnya dengan perintah tauhid uluhiyah sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, dan lain-lain:

يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Artinya:

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah yang hak bagimu selain-Nya” (QS. Al-A’raf [07]: 59, 65, 73, 85)

وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ

Artinya:

“Dan ingatlah Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaum-nya, ‘Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya’.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 16)

Dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam,

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Artinya:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama.” (QS. Az-Zumar [39]: 11)

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bina-Qurani-Tauhid-Uluhiyyah

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Tauhid Uluhiyah, Source: Photo by Konevi From Pixabay

Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah serta mengamalkannya.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

Artinya:

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang hak selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad [47]: 19)

Demikian pula kewajiban pertama bagi orang yang ingin masuk Islam adalah mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Jadi, jelaslah bahwa tauhid uluhiyah adalah maksud dakwah para rasul. Disebut demikian karena uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya “Allah” yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah).

Tauhid uluhiyah juga disebut tauhid ibadah karena ubudiyyah adalah sifat ‘abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepada-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Ketahuilah, kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikiaskan, tetapi dari sebagian segi mirip dengan kebutuhan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi, di antara keduanya ini terdapat perbedaan yang mendasar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati danruh, ia tidak bisa baik kecuali dengan Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Ia tidak bisa tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung lama, tetapi akan berpindah-pindah dari satu macam ke macam yang lain, dari satu orang kepada orang lain. Adapun Tuhannya maka Dia dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu, dimanapun ia berada maka Dia selalu bersamanya.”

Bina-Qurani-Tauhid-Uluhiyyah

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Tauhid Uluhiyah, Source: Photo by Ahmad Ardity From Pixabay

Tauhid jenis ini adalah inti dari dakwah para rasul karena ia adalah pondasi tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka muncullah lawannya, yaitu syirik.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa menyekutukan-Nya (syirik).” (QS. An-Nisa [04]: 48, 116)

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya:

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [06]: 88)

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [16]: 65)

Tauhid jenis ini adalah kewajiban pertama bagi seluruh hamba.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An-Nisa [04]: 36)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya:

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra [17]: 23)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya:

“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabb-mu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak’.” (QS. Al-An’am [06]: 151)

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 39-43.

Artikel Terkait:
Tauhid

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login