Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Wujud dan Keesaan Al-Khalik Menurut Alquran

Bina-Qurani-Wujud-dan-Keesaan-Al-Khaliq-Menurut-Alquran
Wujud dan Keesaan Al-Khalik Menurut Alquran

Manhaj Al-Quran dalam menetapkan wujud Al-Khaliq serta keesaan-Nya adalah manhaj yang sejalan dengan fitrah yang lurus dan akal yang sehat. Yaitu dengan mengemukakan bukti-bukti yang benar, yang membuat akal mau menerima dan musuh pun menyerah. Di antara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

1. Sudah menjadi kepastian bahwa setiap yang baru tentu ada yang mengadakan.

Ini adalah sesuatu yang dimaklumi setiap orang melalui fitrah, bahkan hingga oleh anak-anak. Jika seorang anak dipukul oleh seseorang Ketika ia tengah lalai dan tidak melihatnya, ia pasti akan berkata “Siapa yang memukulku?” kalua dikatakan kepadanya, “Tidak ada yang memukulku” maka akalnya tidak dapat menerimanya. Bagaimana mungkin ada pukulan tanpa ada yang melakukannya. Kalau dikatakan kepadanya, “Si Fulan yang memukulmu” maka kemungkinan ia akan menangis sampai bisa membalas memukulnya. Karena itu Allah berfirman:

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri nereka sendiri)?” (QS. At-Thur [52]: 35)

 

Bina-Qurani-Wujud-dan-Keesaan-Al-Khaliq-Menurut-Alquran

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Wujud dan Keesaan Al-Khaliq Menurut Alquran, Source: Photo by Visual Karsa OnUnsplash

Ini adalah pembagian yang membatasi, yang disebutkan Allah dengan bentuk pertanyaan menyangkal (istifham inkari) untuk menjelaskan bahwa mukadimah ini sudah merupakan aksioma (kebenaran yang nyata), yang tidak mungkin lagi diingkari. Dia berfirman, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun?” Maksudnya tanpa pencipta yang menciptakan mereka, ataukah mereka menciptakan diri mereka sediri? Tentu tidak. Kedua hal itu sama-sama batil. Maka tidak ada kemungkinan lain kecuali mereka mempunyai pencipta yang menciptakan mereka, yaitu Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, tidak ada lagi pencipta lain-Nya. Allah berfirman:

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah.” (QS. Luqman [31]: 11)

رُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ

“Perlihatkan kepada-Ku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi ini.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 4)

أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah pencipta segaa sesuatu dan Dia-lah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 16)

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ

“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka Bersatu menciptakannya.” (QS. Al-Hajj [22]: 73)

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (QS. An-Nahl [16]: 20)

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. An-Nahl [16]: 17)

Meskipun sudah diatantang berulang-ulang seperti itu, namun tidak seorang pun yang mengaku bahwa dia telah menciptakan sesuatu. Pengakuan atau dakwaan saja tidak ada. apalagi menetapkan dengan bukti. Jadi, ternyata benar hanya Allah lah sang pencipta, dan tidak ada sekutu bagi- Nya.

Bina-Qurani-Wujud-dan-Keesaan-Al-Khaliq-Menurut-Alquran

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Wujud dan Keesaan Al-Khaliq Menurut Alquran, Source: Photo by Rachid Oucharia On Unsplash

2. Teraturnya semua urusan alam dan kerapiannya.

Ini adalah bukti paling kuat yang menunjukkan bahwa pengatur ala mini hanyalah Tuhan yang satu, yang tidak bersekutu ataupun berseteru. Allah berfirman:

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada Ilah (yang lain) beserta-Nya, kalua ada Ilah beserta-Nya, masing-masing Ilah itu akan membawa mahluk yang diciptakanny, dan sebgian yang lain.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 91)

Tuhan yang hak harus menjadi pencipta sejati. Jika ada tuhan lain dalam kerjaannya, tentu tuhan itu juga bisa mencipta dan berbuat. Ketika itu pasti ia tidak akan rela adanya tuhan lain bersamanya. Bahkan, seandainya ia mampu mengalahkan temannya dan menguasai sendiri kerajaan serta ketuahanan, tentu telah ia lakukan. Apabila ia tidak mampu mengalahkannya, pasti ia hanya akan mengurus kerajaan miliknya. Seagaimana raja-raja di dunia mengurus kerajaannya sendiri-sendiri. Maka terjadilah perpecahan sehingga harus terjadi salah satu dari tiga perkara berikut ini:

  • Salah-satunya mampu mengalahkan yang lain dan menguasai alam sendiri.
  • Masing-masing berdiri sendiri dalam kerajaan dan penciptaan sehingga terjadi pembagian kekuasaaan.
  • Kedua-duanya berada dalam kekuasaan seorang raja yang bebas dan berhak apa saja terhadap keduanya. Dengan demikian, dialah yang menjadi tuhan yang hak, sedangkan yang lain adalah hambanya.

Inilah faktanya bahwa di alam ini tidak terjadi pembagian (kekuasaan) dan ketidak beresan. Hal ini menunjukkan pengaturannya adalah salah satu dan tak seorang pun yang menentang-Nya. Dan bahwa Rajanya adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Bina-Qurani-Wujud-dan-Keesaan-Al-Khaliq-Menurut-Alquran

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Wujud dan Keesaan Al-Khaliq Menurut Alquran, Source: Photo by Malik Shibly On Unsplash

3. Tunduknya makhluk-makhluk ntuk melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri dan mematuhi peran yang diberikan-Nya.

Tidak ada satu pun makhluk yang mengembangkan dari melaksanakan tugas dan fungsinya di alam semsta ini. Inilah yang dijadikan hujjah Nabi Musa as Ketika ditanya Fir’aun:

قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَامُوسَى قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى

“Berkata fir’aun ‘Maka siapakah tuhanmu berdua, hai Musa? Musa berkata, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberikannya petunjuk.” (QS. Thaha [20]: 49-50)

Jawaban Musa sungguh tepat dan telak, “Tuhan Kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” Maksudnya, Tuhan kami yang telah menciptakan semua makhluk dan memberi semua masing-masing makhluk suatu ciptaan yang pantas untuknya; mulai dari ukuran, besar, kecil, dan sedangnya serta seluruh sifat-sifatnya. Kemudian menunjukkan kepada setiap makhluk tugas dan fugsinya.

Petunjuk ini adalah hidayah yang sempurna, yang dapat disaksikan pada setiap makhluk. Setiap makhluk engkau dapati melaksanakan apa yang menjadi tugasnya. Apakah itu dalam mencari manfa’at atau menolak bahaya. Sampai hewan ternak pun diberi-Nya sebagian dari akal yang membuatnya mampu melakukan yang bermanfaat baginya, dan juga mampu melakukan tugasnya dalam kehidupan. Ini seperti firman Allah:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya.” (QS. As-Sajdah [32]: 7)

Maka, yang telah menciptakan semua makhluk dan memberinya sifat penciptaan yang baik, yang mana manusia tidak bisa mengusulkan yang lebih baik lagi, juga yang telah menujukkan kepada kemaslahatannya masing-masing adalah Tuhan yang sebenarnya. Memgingkari-Nya adalah mengingkari wujud ynag paling agung. Dan hal itu merupakan kecongkakan atau kebohongan yang terang-terangan.

Allah memberi semua makhluk segala kebutuhannya di dunia, kemudian menunjukkan cara-cara pemanfaatannya. Tidak syak lagi bahwa Dia telah memberi setiap jenis makhluk suatu bentuk dan rupa yang sesuai dengannya. Dia telah memberi setiap laki-laki dan perempuan bentuk yang sesuai dengan jenisnya, baik dalam pernikahan, perasaan, dan unsur sosial. Dia juga telah memberi setiap anggota tubuh bentuk yang sesuai untuk suatu manfaat yang telah ditentukan-Nya. Semua ini adalah bukti-bukti nyata bahwa Allah adalah Tuhan bagi segala sesuatu, dan Dia yang berhak disembah, bukan yang lain. Seorang penyair berkata:

“Pada setiap benda terdapat bukti bagi-Nya, yang menujukkan bahwa Dia adalah Esa.”

Tak diragukan lagi, maksud penetapan rububiyyah Allah atas makhluknya dan keesaan-Nya dalam rububiyyah adalah untuk menujukkan wajibnya menyembah Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya, yakni tauhid uluhiyyah. Andaikata seseorang mengakui tauhid uluhiyah, atau tidak mau melaksanakannya, makai adalah kafir jahid (yang menentang). Tema inilah yang akan kita bahas pada pembahasan berikutnya, insya Allah.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 29-34.

Thumbnail Source: Photo by Mifta Farid On Unsplash

Artikel Terkait:
Alam Semesta Tunduk dan Patuh Kepada Allah

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login