Pesantren isinya hanya ngaji dan bawa kitab terus, siapa bilang? Mungkin Anda belum tahu tentang BQ Islamic Boarding School. Di era digital yang serba instan ini, menjadi santri juga berkesempatan menguasai teknologi informasi. Santri asal tangerang Gimbo Raflesia telah membuktikannya sendiri.

Melalui semangat dan kerja kerasnya, Gimbo Raflesia tercatat sebagai santri BQ Islamic Boarding School yang memperoleh medali emas robotik tingkat nasional. Prestasi tersebut ia raih pada tahun 2025 lalu, dimana teknologi telah berkembang pesat, Gimbo tak ketinggalan mengambil kesempatan itu untuk menguji mentalnya.

Awal mula perjalanan Gimbo Raflesia adalah dari ketertarikannya dengan dunia teknologi informasi. Ia lebih memilih peminatan IT semasa menjadi santri. Sehingga antara pendidikan agama Islam sebagai santri dan perkembangan zaman dapat jalan dengan seimbang. Karena jika tidak, kita akan ketinggalan jauh dengan negara-negara Islam yang berkembang dengan pengaruh teknologi tanpa melanggar syariat Islam itu sendiri.

Perjalanan prestasi lainnya bukan hanya unggul dalam bidang IT, ia juga berhasil meraih Juara I Tandu Estafet Terbaik PMR Calesta Se-Bogor dan Depok serta Juara Harapan III PMR Favorit pada tahun 2025. Dan yang gak kalah prestisius adalah meraih Juara II Robot Tracer Line pada tahun 2026.

Pengalaman ini menjadi bekal yang berharga sekaligus menjadi kisah yang inspiratif. Bagaimana tidak, seorang santri yang biasa membawa kitab, kini menjelma menjadi santri yang ahli di bidang IT. Keberhasilan ini tentunya tak lepas dari pengaruh lingkungan di pesantren. Kurikulum inti Bina Qurani membantu menggapai tujuan dan cita-cita santri sebagai santri yang berwawasan Islam dan ahli di bidang IT.

Santri BQ Islamic Boarding School, didorong agar memiliki keterampilan IT yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan bekal pendalaman ilmu agama dan pemahaman coding yang baik, diharapkan dapat menjadi santri IT yang jago ngaji dan jago coding. Hal inilah yang menjadikan Gimbo menjadi santri yang cerdas dan berakhlak mulia. Dengan nilai-nilai keislaman ia tumbuh, dan dengan IT ia terampil dan berkembang.

Puncaknya pada tahun 2026 dalam event Haflu Takhrij atau penganugerahan santri terbaik. Dalam event tersebut, Gimbo Raflesia dan rekan santri lainnya Muhammad Fadil tampil mepresentasikan hasil project-nya. Dihadapan seluruh audience yang dihadiri oleh seluruh civitas akademika BQ Islamic Boarding School, mereka tampil dengan luar biasa.

Project yang mereka tampilkan adalah hasil kerja keras semasa menjadi santri Bina Qurani. Dengan menampilkan project aplikasi Halaqah Quran dengan tujuan pencatatan input data yang lebih cepat dan efisien. Diluar dugaan, hasil ini mendapatkan standing applause dari seluruh yang hadir. Project ini juga melibatkan ayahanda dari Gimbo Raflesia yang turut hadir menyaksikan project buatannya.

Apakah cukup sampai di situ? Tentu tidak! Masih banyak lagi project lainnya yang gak kalah menarik. Project buatannya menjadi bukti akan keberhasilan kurikulum IT di pondok pesantren BQ Islamic Boarding School. Dari kisah santri di atas menjadi pengingat kita bahwa pendidikan agama penting, namun mengikuti perkembangan era digital juga penting.

Bagi santri ini baru perjalanan awal, masih panjang perjalanan yang harus ditempuh di masa yang akan datang. Namun dari pengalaman ini menjadi bekal yang berharga bagi santri di masa depan. Gimbo Raflesia adalah gambaran dari seorang santri yang tidak hanya cerdas dalam akademik, melainkan juga non akademik. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi santri lainnya agar tetap semangat dalam menuntut ilmu. Terima kasih!