Setiap santri memiliki ciri dan karakter yang berbeda satu sama lain. Ada yang suka tampil, ada yang suka menyendiri dan ada pula terlalu percaya diri. Namun tidak sedikit pula santri yang lebih nyaman ketika bersikap tenang dan tak banyak bicara. Mungkin inilah gambaran dari ananda Tristan Mahardika, santri SMP BQ Islamic Boarding School Kota Bogor yang memiliki prestasi gemilang.

Tak banyak bicara, tenang, namun pernuh percaya diri. Tristan Mahardika berhasil membuktikan bahwa menjadi santri tak harus selalu tampil dan banyak bicara. Tristan dikenal pendiam namun memiliki karakter yang baik, disiplin dan menjadi teladan bagi santri lainnya.

Prestasi Tristan di dalam kelas cukup bagus, meskipun di SMP BQ Islamic Boarding School tidak ada sistem ranking, namun Tristan selalu menjadi santri dengan pencapaian nilai tertinggi. Bukan hanya dalam bidang akademik, bidang non akademik juga tampil gemilang.

Salah satu prestasinya adalah sebagai Finalis yang mewakili SMP Bina Qurani dalam SNC Mathematics Competitions Tingkat Nasional pada tahun 2025. Pencapaian ini membuktikan bahwa santri tak hanya pandai dalam pendalaman nilai-nilai keislaman, namun juga dalam bidang matematika seperti ananda Tristan.

Selain mendapatkan rata-rata nilai tertinggi dalam kelas, tristan juga dikenal sebagai santri teladan. Salah satu penghargaan yang paling prestisius adalah dalam Event Haflu Takhrij. Tristan Mahardika dinobatkan sebagai santri teladan SMP BQ Islamic Boarding School angkatan l tahun 2025.

Jika biasanya santri pendiam itu tidak percaya diri, hal ini berbeda dengan ananda Tristan. Diam bukan berarti takut berbicara, diam bukan berarti malu. Terkadang, santri harus memiliki kemampuan soft skill, kapan harus tampil dan kapan harus menarik diri.

Lingkungan pesantren BQ Islamic Boarding School membantu dalam pembentukan karakter. Pesantren BQ tidak hanya berfokus pada pendalaman materi tekstual saja. Hal itu tertuang dalam kurikulum khas BQ yaitu QUALITY yang terdiri; Quran, Adab, Bahasa dan Informasi Teknologi.

Dari kurikulum itulah pembentukan karakter terbentuk, mulai dari kemandirian, kedisiplinan, dan adab seluruh santri. Sehingga diharapkan dengan pendalaman kurikulum tersebut seluruh santri dapat menerapkan nilai-nilai kebaikan dan kecerdasan intelektual.

Tristan Mahardika adalah gambaran santri yang memiliki adab dan budi pekerti luhur, namun tidak meninggalkan kewajibannya sebagai santri. Sikap yang baik, santun, tenang dan disiplin adalah cerminan keberhasilan lembaga pendidikan. Pendidikan adab dan nilai-nilai keislaman yang tertuang dalam kurikulum BQ, tidak hanya materi belaka.

Dari kisah ananda Tristan Mahardika ini, mengingatkan kita bahwa menjadi santri tidak selalu tertinggal. Justru menjadi santri memiliki keutamaan dan keunggulan yang lebih dari siswa sekolah formal. Selama 24 jam santri akan dibina dan dibimbing langsung di pesantren sehingga lebih terkontrol.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi santri lainnya untuk tetap semangat dalam menuntut ilmu. Kisah ingin menjadi pengingat kita bersama bahwa santri pendiam tidak selalu penakut. Santri pendiam bisa jadi menyimpan potensi besar yang belum menemukan bakatnya.

Bagi orang tua calon wali santri yang sedang mencari pendidikan terbaik untuk anaknya seperti Tristan Mahardika, SMP BQ Islamic Boarding School jawabannya. Kurikulum BQ Islamic Boarding School menjawab kebutuhan orang tua akan pendidikan buah hatinya. Selain kurikulum di bawah dinas pendidikan, BQ juga menerapkan kurikulum kepesantrenan dan kurikulum QUALITY yang menjadi ciri khas Bina Qurani.

Semoga kisah bermanfaat dan dapat menginspirasi santri lainnya, terima kasih!